Cerita Pesantren: Berkaca dari Diri


Orang tua adalah tinta, anak adalah selembar kertas putih. Ketika seorang anak dilahirkan dan pertama kali membuka mata, orang tualah yang mulai menorehkan tinta kepadanya. Apa yang pertama kali ia lihat itulah yang akan dia tirukan.

Anak adalah cerminan dari orang tua baik dalah hal kepribadian, perilaku dan kebiasaan. Setiap orang tua pasti menginginkan hal yang baik dari anaknya, oleh karenanya orang tua dituntut untuk menjadi pribadi yang baik pula. Mengenali dunia anak adalah kawajiban bagi setiap orang tua, tak bisa dipungiri bahwa jati diri seorang anak dimasa depan salah satu tolok ukurnya ialah bagaimana cara orang tua mendidiknya.

Menurut pandangan Montessori yang meyakini bahwa panca indera adalah pintu gerbang masuknya berbagai pengetahuan ke dalam otak manusia karena perannya yang sangat strategis maka seluruh panca indera harus memperoleh kesempatan untuk berkembang sesuai fungsinya.

Bahasa yang kasar seringkali digunakan sebagai wujud pelampiasan kekesalan. Mendidik anak tentunya tidak lepas dari kesabaran dan ketelatenan yang luar biasa. Seringkali kita dihibur dan dibuat gemas dengan tingkah laku si kecil, namun tak jarang pula kecerobohan dan tingkah lakunya juga menimbulkan kekesalan, terlebih saat anak berbuat salah atau sesuatu yang tidak dikehendaki orang tua.

Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Menggunakan kata kasar dan nada bicara dalam mendidik anak sudah umum dilakukan dikalangan masyarakat kita tanpa disadari dampak yang ditimbulkan. Anak belajar dari apa yang mereka dengar. Mereka menirukan apa yang ada disekitarnya untuk mengembangkan kemampuan verbal yang dimiliki.

Mendengar merupakan salah satu cara anak untuk belajar berfikir dalam memulai hal baru. Gelombang suara yang masuk melalui telinga akan diproses otak untuk selanjutnya diwujudkan dalam bentuk tindakan. Sebagai orang tua, tentu tidak lepas dari perasaan kawatir dan ingin menjaga buah hati mereka. Namun, adakalanya kesalahan dalam mendidik anak seringkali dilakukan tanpa disadari dalam hal ini.

Salah satunya larangan kepada anak untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkan orang tua. Kata “jangan” seringkali diucapkan orang tua sebagai wujud larangan anak dalam melakuan suatu hal. Namun faktanya, penggunaan kata tersebut menimbulkan banyak pengaruh negatif seperti rasa keingintahuan yang besar terhadap alasan kenapa ia dilarang melakuan hal yang di inginkan sehingga menimbulkan suatu tindakan yang sebaliknya.

Oleh karena itu, berhak kah orang tua marah atau kecewa terhadap rasa ingin tau yang melekat pada sosok anak untuk mengenali lingkungannya? Ada kalanya dampak fatal dari penggunaan kata “jangan” adalah secara psikologis anak dapat mengalami gangguan berupa trauma atau yang lebih parah ialah rasa takut seorang anak untuk memulai hal baru. Kata “jangan” yang diucapkan dengan lantang/kasar secara tidak langsung juga dapat mempengaruhi alam bawah sadar anak yang berakibat fobia secara berkelanjutan.

Demikianlah tulisan mengenai renungan terhadap materi "Berkaca dari Diri". Semoga dengan adanya tulisan yang dibuat oleh Kiki Z.H ini dapat bermanfaat bagi segenap pembaca sekalian, terutama yang sedang mencari hikmah daripada "Cerita Pesantren". Traimakasih, 

Belum ada Komentar untuk "Cerita Pesantren: Berkaca dari Diri"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel